1
1
DETIK65.COM, Jakarta – Suasana duka menyelimuti kediaman Guruh Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026). Sejumlah kerabat, sahabat, dan tokoh datang untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya putra Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tersebut.
Salah satu yang hadir adalah Neneng Anjarwati Tuty, mantan Ketua Umum Partai Berkarya. Kedatangannya bukan hanya untuk menyampaikan penghormatan terakhir, tetapi juga membawa kenangan pribadi tentang sosok Guruh yang selama ini dikenalnya.
Neneng mengaku masih terkejut ketika mendengar kabar mengenai kondisi Guruh yang kritis hingga akhirnya meninggal dunia.
“Saya juga merasa kaget tadi bahwa Mas Guruh kritis ya, terus meninggal di tempat,” ujar Neneng seusai berada di kediaman almarhum.
Neneng mengatakan dirinya hadir mewakili Relawan Berkarya Nasional. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas nama pihak yang memiliki hubungan dengan organisasi tersebut, dengan menyebut Tommy Soeharto sebagai salah satu pembina.
“Saya mewakili Pak Tommy Soeharto juga dari Berkarya Nasional. Tapi dari Relawan Berkarya Nasional, ketua umum saya dan pembinanya Mas Tommy,” katanya.
Bagi Neneng, Guruh bukan sekadar nama besar dalam dunia seni Indonesia. Ia mengaku pernah berkomunikasi dan bertemu langsung dengan Guruh, termasuk dalam kesempatan ketika anak-anaknya juga turut hadir.
Karena itu, kabar kepergian Guruh membuatnya merasa kehilangan. Terlebih, Neneng mengaku baru memiliki rencana untuk kembali menemui almarhum.
“Saya baru gini, ah mau nengok-nengok ke Mas Guruh. Katanya sudah begitu,” ucapnya.
Rencana sederhana untuk berkunjung dan berbincang itu akhirnya tidak sempat terlaksana. Guruh lebih dahulu berpulang.
Dalam ingatannya, Guruh merupakan sosok yang sangat dekat dengan dunia seni. Setiap kali berkomunikasi, pembicaraan mereka kerap bersinggungan dengan seni dan kebudayaan.
“Dia sangat ini sekali ya orangnya. Karena seniman ya. Kalau ngobrol ya masalah seni budaya,” tutur Neneng.
Kesan tersebut yang hingga kini melekat dalam ingatan Neneng. Ia melihat Guruh sebagai sosok yang memiliki perhatian kuat terhadap seni dan budaya, sehingga percakapan dengannya pun selalu menarik untuk dikenang.
Meski tidak menjelaskan secara rinci kapan terakhir kali bertemu, Neneng mengakui bahwa dirinya pernah cukup dekat berkomunikasi dengan Guruh. Ia juga menyebut hubungan tersebut melibatkan anak-anaknya dan keluarga Megawati Soekarnoputri.
“Mas Guruh dan juga anak-anak saya, mereka juga Ibu Mega ada,” katanya.
Kepergian Guruh pun menjadi kabar duka yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh orang-orang yang pernah mengenal dan berinteraksi dengannya.
Neneng kemudian menyampaikan doa bagi keluarga besar almarhum. Ia berharap keluarga tetap diberikan ketenangan, kesehatan, serta kekuatan untuk menghadapi kehilangan tersebut.
“Saya sangat berduka cita sedalam-dalamnya kepada Mas Guruh yang baik hati,” ujarnya.
Neneng secara khusus juga menitipkan doa untuk Megawati Soekarnoputri beserta seluruh keluarga agar tetap sehat dalam menghadapi suasana duka.
“Mudah-mudahan Ibu Mega sekeluarga sehat selalu,” katanya.
Bagi Neneng, kenangan tentang Guruh akan tetap melekat, terutama sebagai sosok seniman yang ketika diajak berbincang selalu membawa pembicaraan pada seni dan kebudayaan.
Kehadiran Neneng di rumah duka menjadi bagian dari rangkaian ungkapan belasungkawa dari orang-orang yang pernah mengenal Guruh Soekarnoputra. Kepergiannya meninggalkan kenangan dan cerita bagi mereka yang pernah bersentuhan langsung dengan perjalanan hidupnya.***