Popular Posts

Andy Chandra Apresiasi Festival Akulturasi Betawi-Tionghoa: Budaya Jadi Perekat Persatuan

DETIK65.COM , Jakarta – Ragam warna budaya berpadu menjadi satu dalam gelaran Festival Akulturasi Kebudayaan Betawi dan Tionghoa yang digelar di Kampoeng Pandawa Kamal, Jakarta Barat, Minggu (21/6/2026). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-499 ini menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan keberagaman yang telah lama menjadi identitas Kota Jakarta.

Sejak pagi hari, ribuan warga tampak memadati kawasan festival. Mereka menikmati berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari kesenian Betawi, atraksi barongsai, musik tradisional, hingga bazar kuliner dan produk UMKM yang menggambarkan harmonisasi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat ibu kota.

Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang turut menambah semarak acara. Salah satunya adalah DR. Andy Chandra., SH., MH., Ketua Dewan Penasehat Forum Betawi Rempug (FBR), yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival budaya tersebut.

Menurut Andy Chandra, kegiatan ini memiliki peran penting dalam memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas.

“Saya mengapresiasi acara ini karena selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga memberikan edukasi tentang kebudayaan. Jadi bukan hanya mengenal Tionghoa Betawi, tapi juga Tionghoa Sunda, Tionghoa Makassar, dan berbagai akulturasi budaya lainnya yang ada di Indonesia,” ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi acara.

Ia menilai keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan aset berharga yang harus terus dirawat. Dalam penerapannya, perbedaan budaya bukanlah sekat yang memisahkan, melainkan jembatan yang memperkuat rasa persaudaraan dan persaudaraan.

“Jakarta tumbuh menjadi kota besar karena kehadiran masyarakat dari berbagai suku, budaya, dan latar belakang. Oleh karena itu, ruang-ruang budaya seperti ini sangat penting untuk mempererat hubungan antarmasyarakat,” katanya.

Tak hanya dikenal sebagai tokoh masyarakat Andy juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Selama lebih dari dua dekade menjadi Ketua Dewan Penasehat FBR, ia mengaku terus mendorong organisasinya untuk hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Salah satu program yang secara konsisten dijalankan adalah santunan bagi anak yatim yang dilaksanakan setiap bulan Ramadhan. Program tersebut telah berlangsung selama 11 tahun berturut-turut dan menjangkau ribuan penerima manfaat.

“Setiap tahun kami berupaya memberikan hak anak yatim. Alhamdulillah kegiatan ini sudah berjalan selama 11 tahun dengan jumlah penerima manfaat rata-rata mencapai 3.000 anak yatim,” ungkapnya.

Baginya, budaya dan kepedulian sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Budaya mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, saat kegiatan sosial menjadi wujud nyata dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Festival Akulturasi Kebudayaan Betawi dan Tionghoa sendiri menjadi salah satu agenda budaya yang mendapat perhatian masyarakat dalam rangka menyambut HUT Jakarta ke-499. Selain menjadi sarana hiburan, acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat toleransi, memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda, serta memperkokoh identitas Jakarta sebagai kota yang lahir dan berkembang dari keberagaman.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kegiatan budaya seperti ini dinilai memiliki makna strategis dalam menjaga akar tradisi dan memperkuat karakter masyarakat. Melalui lompatan berbagai budaya dalam satu ruang yang sama, masyarakat diajak untuk melihat bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Festival yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi gambaran nyata wajah Jakarta hari ini; kota yang terus berkembang, namun tetap menghargai sejarah, budaya, dan keberagaman yang menjadi landasan kehidupannya.

Dengan semangat persatuan dan kebhinekaan, Festival Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa di Tegal Alur menjadi pesan bahwa budaya tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga menjadi sarana membangun masa depan yang harmonis bagi seluruh anak bangsa.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *