1
1
DETIK65.COM , Jakarta – Persoalan yang muncul dalam kehidupan organisasi maupun komunitas tidak seharusnya hanya menjadi bahan pembicaraan tanpa ujung. Setiap permasalahan perlu dikaji secara mendalam untuk menemukan akar masalah sekaligus merumuskan solusi yang dapat dijalankan bersama.
Pandangan tersebut disampaikan tokoh keagamaan Hindu, Ida Pandita Putra Bhirudksa saat memberikan tanggapan terhadap gagasan tertuang dalam dua buku karya Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, yakni Tandur Taru Urip dan Pancekterke Manifesto Pemikiran tentang Transformasi PHD.
Ida Pandita Putra Bhirudksa menilai, kehidupan organisasi maupun komunitas pada dasarnya tidak pernah lepas dari berbagai permasalahan. Namun, permasalahan tersebut justru dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan mencari langkah perbaikan.
“Semua kita, baik pribadi maupun organisasi maupun komunitas, pasti ada persoalan-persoalan. Bagaimana persoalan itu dijadikan kajian untuk mengungkap apa akar persoalannya,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, setelah akar permasalahan ditemukan, berbagai pihak perlu duduk bersama dengan membawa kemampuan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, permasalahan tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang, melainkan dilihat melalui berbagai perspektif.
“Yang punya kelebihan di bidang A, B, C, D, berkumpul di situ. Melihat masalah ini, lalu apa jalan keluarnya, jalan keluarnya. Itu mungkin tugas kita mencari jalan keluar,” katanya.
Ia menegaskan, kemampuan menghasilkan solusi merupakan salah satu karakter penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Seorang pemimpin, menurut dia, tidak cukup hanya mampu menjelaskan persoalan yang terjadi, tetapi harus mampu membawa gagasan yang mengarah pada penyelesaian.
“Pemimpin itu harus banyak menemukan solusi-solusi. Kalau hanya mengulang persoalan-persoalan, bukan pemimpin. Persoalan-persoalan, biar yang lain yang menyampaikan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus pentingnya perubahan cara pandang dalam menjalankan kepemimpinan. Ketika berbagai persoalan telah disampaikan, pemimpin harus mampu mendengarkan, menyerap aspirasi, kemudian menawarkan sejumlah alternatif penyelesaian.
“Begitu pemimpin mendengar, solusi-solusinya bagaimana? Beliau memberikan beberapa solusi-solusi itu juga, meski belum spesifik,” tuturnya.
Ia mengakui, gagasan yang disampaikan belum tentu langsung menjawab seluruh permasalahan secara teknis. Namun, menurutnya, sebuah pemikiran tetap memiliki nilai penting jika mampu membuka ruang diskusi dan mendorong solusi lahirnya bersama.
“Beliau tidak duduk di kepengurusan selama ini. Jadi mudah-mudahan saja ada harapan kita,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, Ida Pandita Putra Bhirudksa menyebut sosok Ari Dwipayana sebagai salah satu kandidat yang nantinya dapat mengikuti proses demokratis dalam organisasi. Ia menegaskan, siapa pun yang nantinya mendapat mandat tetap harus menghormati keputusan yang lahir melalui mekanisme demokratis.
“Beliau menjadi salah satu umat, salah satu kandidat nanti. Tapi secara demokratis kita, nanti akan ada dalam Sibu 13.000. Siapa pun nanti terpilih,” katanya.
Menurutnya, perbedaan pilihan dalam sebuah proses demokrasi tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai positif dari gagasan yang telah disampaikan. Sebaliknya, setiap pemikiran yang konstruktif dapat menjadi bahan bagi siapa pun yang kelak mendapatkan kepemimpinan yang amanah.
“Pemikiran-pemikiran ini tentu hal positif. Siapa pun nanti bisa memakainya,” tutupnya.
Bagi Ida Pandita Putra Bhirudksa, tantangan terbesar organisasi bukan sekadar bagaimana menginventarisasi berbagai persoalan, tetapi bagaimana mengubah persoalan tersebut menjadi bahan kajian untuk melahirkan solusi.
Dengan menggabungkan potensi, pengalaman, dan pemikiran dari berbagai pihak, ia berharap organisasi dapat bergerak lebih maju dan kepemimpinan ke depan benar-benar mampu menghadirkan jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi umat.***