Jakarta, Detik65.com– PT DSFI Tbk terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan perikanan terintegrasi berstandar global. Direktur Utama PT DSFI, E. Wijaya, memaparkan perkembangan perseroan mulai dari jejak rekam, sertifikasi internasional, hingga kinerja keuangan terbaru.
Rekam Jejak & Sertifikasi Global PT DSFI
Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia tahun 2000, PT DSPI konsisten meningkatkan tata kelola. Langkah strategis perseroan:
– 2007: Penawaran umum terbatas untuk memperkuat struktur permodalan
– 2019: Ekspansi produk olahan domestik seperti bakso ikan dan nugget
– 2020: Meraih sertifikasi GFSI, skema keamanan pangan global terkemuka
– 2023: Sertifikasi MSC Chain of Custody untuk pabrik Jakarta, jaminan produk ecolabel
– 2024: Bergabung dengan Sedex sebagai anggota, dukung audit rantai pasok etis
– 2025: Jadi pionir penggunaan PLTS skema sewa tanpa biaya awal bersama Surya Group
Manajemen & Pemegang Saham
Dewan Komisaris: Bapak Steven Kurniawan Sulistio sebagai Komisaris Utama, Ibu Nawati Wibowo, Bapak Hadis, Ibu Sulistiawati, Bapak Wanda Wantoto sebagai Komisaris Independen, Bapak Kudi Yanto sebagai Komisaris.
Direksi: Bapak E. Wijaya sebagai Direktur Utama, Ibu Siti Handoko sebagai Direktur, Bapak Kelvin Sulis sebagai Direktur.
Struktur saham: 69,60% PT Marina Berkah Lestari, 30,40% masyarakat.
Jaringan Pabrik & Pengadaan Ikan Nasional
PT DSFI mengoperasikan pabrik Jakarta 7.785 m² dan pabrik Kendari 2.324 m². Area pengadaan mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Ambon, Ternate, hingga Papua.
Dua fasilitas baru di Sumatera Utara dan Aceh sedang diproses untuk memperkuat suplai bahan baku.
Produk Ekspor & Pasar Domestik
Produk PT DSFI telah menjangkau 20+ negara dengan sertifikasi khusus pasar Amerika Serikat. Komposisi produk ekspor: fish fillet 69%, gurita 18%, tuna 8%.
Untuk domestik B2B, perseroan fokus ke restoran premium dan hotel bintang 4-5 dengan produk olahan end user.
Kinerja Q1 2026 Tumbuh Solid
Strategi fokus produk bernilai jual tinggi dan dampak nilai tukar mendorong pertumbuhan. Dibanding Q1 2025:
– EBITDA: Naik 10% ke Rp8,3 miliar dari Rp7,5 miliar
– Laba bersih: Naik 20% ke Rp4,3 miliar
– Margin EBITDA: 4,5%
– Margin laba bersih: 2,4%
Efisiensi biaya logistik ekspor jadi kunci, meski ada tekanan biaya akibat kondisi global.(Dhea)