1
1
DETIK65.COM, Jakarta – Menjelang usia satu abad pada 2027, Alkhairaat menyuarakan pentingnya keadilan ekonomi dalam pemerataan hasil pengelolaan sumber daya alam. Organisasi pendidikan dan keagamaan yang berakar di Sulawesi Tengah tersebut berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH), termasuk mengalokasikan dukungan bagi lembaga pendidikan yang selama ini berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dorongan itu disampaikan Ketua Panitia Silaturahmi Nasional (Silatnas) Alkhairaat, Samsudin M. Pay, dalam konferensi pers persiapan kegiatan Silatnas di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menilai, besarnya kontribusi Sulawesi Tengah terhadap penerimaan negara, khususnya dari sektor pertambangan dan industri pengolahan nikel, semestinya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kualitas pendidikan di daerah.
Menurut Samsudin, Alkhairaat merupakan salah satu lembaga yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, terutama di kawasan Indonesia timur. Karena itu, pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan keberadaan lembaga tersebut dalam kebijakan pemerataan manfaat ekonomi daerah penghasil sumber daya alam.
“Sulawesi Tengah itu adalah wilayah yang memiliki kontribusi besar untuk APBN dengan pabrik nikel terbesar di dunia, di sana lah Alkhairaat berdiri dan berkontribusi terhadap dunia pendidikan, dakwah dan keagamaan. Oleh karenanya kami Alkhairaat meminta keadilan ekonomi terhadap pemerintah Prabowo-Gibran, bahwa dana bagi hasil itu jika diperuntukkan untuk lembaga pendidikan, maka Alkhairaat adalah lembaga yang tepat untuk diberikan,” ungkap Samsudin yang juga Ketua Majelis Pengembangan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat PB Alkhairaat.
Ia berharap kebijakan pengelolaan DBH tidak hanya dilihat dari aspek pembagian anggaran, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor yang memberikan manfaat langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat. Pendidikan, menurutnya, merupakan investasi penting dalam membangun sumber daya manusia, khususnya di daerah yang memiliki potensi ekonomi besar.
Aspirasi mengenai pemerataan manfaat ekonomi tersebut mengemuka bersamaan dengan persiapan Silatnas Alkhairaat yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026 di Ballroom Hotel Sahid, Jakarta. Mengusung tema “Guru Tua Memanggil”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi keluarga besar Alkhairaat sekaligus refleksi atas perjalanan panjang organisasi menjelang peringatan satu abad pada 2027.
Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, H. Mohsen Alaydrus, menegaskan bahwa perjalanan organisasi yang dirintis oleh Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua tidak sekadar meninggalkan warisan keagamaan, tetapi juga membangun fondasi pendidikan dan pengabdian sosial bagi masyarakat.
Alkhairaat didirikan pada 1930 di Palu, Sulawesi Tengah. Sejak awal, Guru Tua menaruh perhatian besar terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan pemahaman keagamaan. Melalui pendekatan dakwah yang menyentuh kehidupan masyarakat, ia mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan yang kemudian berkembang dan menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
“Alkhairaat tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga lembaga pendidikan dan lembaga sosial kemasyarakatan,” ujar Mohsen.
Ia menambahkan, nilai-nilai keagamaan yang diwariskan Guru Tua harus senantiasa berjalan seiring dengan semangat kebangsaan. Menurutnya, kecintaan terhadap agama dan Tanah Air bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.
Komitmen tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu landasan Alkhairaat dalam menjaga persaudaraan, memperkuat toleransi, serta merawat persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
Sementara itu, Samsudin menjelaskan bahwa tema “Guru Tua Memanggil” mengandung empat pesan utama. Pertama, menjadi ajakan bagi seluruh keluarga besar Alkhairaat untuk meningkatkan pengabdian dan memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan organisasi.
Kedua, memperkuat konsolidasi dan persatuan potensi umat yang diperkirakan mencapai sekitar 20 juta jamaah dan simpatisan di 28 provinsi. Ketiga, menghidupkan kembali nilai akhlak, penguasaan ilmu pengetahuan, serta dakwah yang mengedepankan kedamaian dan toleransi sebagaimana diajarkan Guru Tua.
Adapun pesan keempat adalah memperbesar kontribusi Alkhairaat terhadap pembangunan Indonesia melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial, sekaligus mengambil bagian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kontribusi tersebut tercermin dari jaringan pendidikan yang telah dibangun Alkhairaat selama puluhan tahun. Saat ini, organisasi tersebut mengelola sekitar 2.000 madrasah diniyah awaliyah yang tersebar di berbagai daerah, terutama di kawasan Indonesia timur.
Selain itu, Alkhairaat juga memiliki jaringan sekolah menengah, madrasah aliyah, hingga Universitas Alkhairaat yang berpusat di Palu. Di bidang pelayanan kesehatan, organisasi ini turut berkontribusi melalui fasilitas rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan jaringan pengabdian yang luas tersebut, Alkhairaat berharap keberadaan lembaga pendidikan keagamaan semakin mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan nasional. Dukungan pemerintah dinilai penting agar lembaga-lembaga pendidikan yang telah lama melayani masyarakat dapat terus berkembang dan meningkatkan mutu pelayanan.
Di sisi lain, menjelang satu abad perjalanan organisasi, Alkhairaat juga terus memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa pendirinya. Usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Guru Tua menjadi salah satu agenda yang didorong sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya dalam pendidikan, dakwah, dan pembangunan kehidupan sosial masyarakat.
Panitia Silatnas turut mempersiapkan seminar nasional yang akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pada 30 November mendatang. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai peran Alkhairaat dalam menjawab tantangan pendidikan, sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
Melalui Silatnas, Alkhairaat ingin memperkuat persatuan internal sekaligus menegaskan kembali komitmennya untuk terus berkontribusi bagi Indonesia. Momentum menuju satu abad bukan sekadar perayaan usia organisasi, melainkan kesempatan untuk memastikan warisan perjuangan Guru Tua tetap hidup dan memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang.
Bagi Alkhairaat, keadilan ekonomi, penguatan pendidikan, serta pemeliharaan persatuan bangsa merupakan bagian dari perjuangan yang tidak dapat dipisahkan. Semangat itulah yang ingin dibawa dalam memasuki abad kedua perjalanan organisasi.***