1
1
DETIK65.COM, JAKARTA – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait meminta pelaksanaan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dilakukan secara transparan dan benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan. Pesan tersebut disampaikan saat meninjau rumah warga di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (18/10/2026).

Dalam peninjauan itu, Maruarar melihat secara langsung kondisi rumah warga yang memerlukan perbaikan. Ia mengaku prihatin karena masih terdapat keluarga yang harus bertahan di hunian dengan kondisi bangunan yang tidak layak, sementara kemampuan ekonomi mereka terbatas.
Menurut Maruarar, pemerintah perlu memastikan bahwa penerima bantuan memenuhi persyaratan, baik dari sisi kondisi rumah maupun kemampuan ekonomi keluarga. Dengan demikian, program bedah rumah tidak salah sasaran dan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia mengungkapkan, salah satu keluarga yang dikunjungi memiliki penghasilan sekitar Rp1 juta dengan tiga orang anggota keluarga. Sementara itu, keluarga lainnya berpenghasilan sekitar Rp2,5 juta dengan tujuh anggota keluarga.
Gambaran tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam menentukan prioritas bantuan perumahan bagi warga berpenghasilan rendah.
Maruarar juga menegaskan bahwa persoalan kemiskinan dan rumah tidak layak huni tidak dapat dipisahkan. Perbaikan tempat tinggal perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ekonomi keluarga melalui kesempatan bekerja dan dukungan permodalan usaha.
Ia menilai perempuan memiliki peran penting dalam mempertahankan ekonomi rumah tangga. Tidak sedikit ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak dan anggota keluarga lainnya meskipun menghadapi keterbatasan.
Karena itu, pemerintah diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki bangunan rumah, tetapi juga mendorong terbukanya peluang ekonomi bagi keluarga penerima manfaat.
Maruarar Libatkan Media untuk Awasi Program Bedah Rumah
Dalam kesempatan tersebut, Maruarar mengajak wartawan ikut mengawasi pelaksanaan program BSPS. Ia meminta media melakukan verifikasi langsung terhadap kondisi rumah dan keadaan ekonomi penghuninya.
Menurutnya, pemeriksaan di lapangan diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui apakah rumah yang menerima bantuan memang layak diprioritaskan atau justru terdapat pihak yang tidak memenuhi kriteria.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam pelaksanaan program pemerintah. Pengawasan publik dinilai dapat membantu mencegah penyimpangan dan memastikan bantuan digunakan sesuai tujuan.
Maruarar turut menyampaikan bahwa alokasi program perbaikan rumah untuk Jakarta pada tahun ini mencapai sekitar 10.300 unit, dibandingkan sekitar 200 unit pada tahun sebelumnya, berdasarkan keterangan yang disampaikannya saat kunjungan.
Nursobah Berharap Rumahnya Menjadi Lebih Layak
Kunjungan tersebut disambut haru oleh Nursobah, salah satu warga yang rumahnya mendapat perhatian dalam program bantuan perumahan.
Ia mengaku lega dan bahagia karena pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi tempat tinggalnya. Nursobah berharap perbaikan rumah dapat membuat dirinya dan keluarga menempati hunian yang lebih nyaman.
“Saya sangat tenang dan bahagia mendapat bantuan ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Perumahan yang sudah datang meninjau rumah saya,” kata Nursobah kepada awak media.
Ia menuturkan bahwa sebelumnya rumahnya pernah mendapat bantuan dari pengurus RW dan lurah setempat. Namun, perbaikan belum dapat diselesaikan secara menyeluruh karena keterbatasan dana.
Nursobah berharap bantuan pemerintah kali ini dapat membantu memperbaiki kondisi rumahnya secara lebih baik.
Peninjauan di Rorotan menjadi pengingat bahwa program perumahan bukan sekadar membangun atau memperbaiki bangunan, melainkan juga memastikan keluarga yang paling membutuhkan memperoleh kesempatan untuk hidup lebih aman dan layak.
Melalui BSPS, pemerintah diharapkan dapat memperkuat kualitas hunian masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga berpenghasilan rendah.